Home > At Tarikh > Jalan Kebenaran Hanya Satu

Jalan Kebenaran Hanya Satu

Islam adl agama universal yg mencakup seluruh ajaran kebaikan. Mulai dari keyakinan ucapan maupun perbuatan diterangkan secara lengkap dlm Islam. Keterangan baik secara global atau rinci terpampang dgn jelas dan gamblang. Itulah jalan-jalan keselamatan yg bisa ditempuh oleh para pemeluk agama ini. Jalan-jalan yg bisa menghantarkan pelintas ke jannah Allah k
dan menyelamatkan dari adzab neraka. Allah k
berfirman:

قَدْ جآءَكُمْ مِنَ اللهِ نُوْرٌ وَكِتاَبٌ مُبِيْنٌ. يَهْدِي بِهِ اللهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلاَمِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُماَتِ إِلىَ النُّوْرِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيْهِمْ إِلىَ صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

“Sungguh telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yg menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang2 yg mengikuti keridhaan-Nya ke jalan-jalan keselamatan dan Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya dgn seizin-Nya serta menunjuki mereka ke jalan yg lurus.”

Jalan keselamatan boleh berbilang namun kebenaran tetap hanya satu. Karena tiap jalan keselamatan adl bagian dari kebenaran yg satu. Sehingga sebuah jalan tdk dihukumi sebagai jalan keselamatan kecuali bila nilai kebenaran menjadi muatannya. Jika terjadi perselisihan dan pertikaian mengenai sebuah jalan keselamatan mk kebenaran itu tetap berjumlah satu. Kebenaran berada pada salah satu pendapat yg dipegang oleh salah satu pihak. Tentu tolak ukur kebenaran itu adl Al Qur`an dan As Sunnah dgn pemahaman Salaf. Allah k
berfirman:

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

“Kebenaran itu adl dari Rabbmu sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang2 yg ragu.”
Kemudian Allah k
berfirman:

وَمَنْ يٌشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِ ماَ تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ ماَ تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَساَءَتْ مَصِيْراً

“Dan barang siapa menentang Rasul sesudah jelas bagi petunjuk dan mengikuti jalan yg bukan jalan orang2 mukmin Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yg telah dikuasai itu dan Kami masukkan ia ke dlm Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”
Lalu Allah k
berfirman:

فَماَذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ

“Maka tdk ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan.”
Al-Imam Al-Qurthubi t
berkata: “Ayat ini menetapkan bahwa tdk ada kedudukan ketiga antara al-haq dan al-bathil dlm permasalahan mentauhidkan Allah k
. mk demikian pula perkara dlm permasalahan-permasalahan yg setara. Yaitu dlm permasalahan-permasalahan ushul kebenaran berada pada salah satu pihak.
Barangkali ada yg mengatakan: “Sesungguh dzahir ayat ini menunjukkan bahwa yg selain Allah adl kesesatan. Karena permulaan ayat berbunyi:

فَذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمُ الْحَقٌّ فَماَذاَ بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ

“Maka itulah Allah Rabb kalian yg sebenarnya; sehingga tdk ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan.”
Lalu kenapa memperluas pendalilan ini ?”
Jawabannya: Sesungguh para pendahulu kita yg baik telah berdalil dgn keumuman ayat ini terhadap segala kebatilan. Oleh krn itu Al-Imam Malik t
berdalil dengan dlm mengharamkan permainan catur sebagaimana pada riwayat Asyhab. Bentuk itu sebagai berikut: bahwa kekafiran adl sesuatu yg menutupi al-haq. mk semua yg selain kebenaran berjalan di atas jalur ini.”
Dalam tiap pertikaian dan perselisihan kebenaran hanya satu sedangkan yg selain adl keliru. Bahkan tdk jarang mengandung kebatilan dan kesesatan. Inilah sebab Allah k
melarang tiap perselisihan dan pertikaian. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah t
pernah menerangkan: “Ayat-ayat yg melarang tiap perselisihan dlm agama mengandung celaan terhadapnya. Seluruh mempersaksikan dgn nyata bahwa al-haq di sisi Allah k
hanya satu sedangkan yg selain merupakan kesalahan. Kalau seandai semua pendapat itu adl benar niscaya Allah k
dan Rasul-Nya tdk akan melarang dari kebenaran dan tdk pula akan mencelanya. Sungguh Allah k
telah mengabarkan bahwa perselisihan bukan dari sisi-Nya. Yang bukan dari sisi Allah k
tak dianggap sebagai kebenaran. Allah k
berfirman:

وَلَوْ كاَنَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلاَفاً كَثِيْراً

“Kalau kira Al Qur`an itu bukan dari sisi Allah tentulah mereka mendapatkan pertentangan yg banyak di dalamnya.”

Dalil-dalil tentang Kebenaran Ha Satu
Cukup banyak dalil akurat dari Al Qur`an As Sunnah dan amalan shahabat yg menunjukkan bahwa kebenaran dlm tiap permasalahan yg diperselisihkan hanya satu. Adapun yg selain merupakan kesalahan. Di antara dalil-dalil tersebut:
1. Allah k
berfirman:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْماً فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Dan bahwa ini adl jalan-Ku yg lurus. mk ikutilah dia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yg lain. Karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu Allah wasiatkan pada kalian agar kalian bertakwa.”
Ibnu Katsir t
-ketika menafsirkan ayat ini- berkata: “Firman Allah k
:

فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ

“Ikutilah dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan yg lain.”
sungguh Allah k
menyebutkan tentang jalan-Nya dgn bentuk kata tunggal krn kebenaran itu hanya satu. Oleh sebab itu Allah menyebutkan tentang jalan-jalan yg lain dgn bentuk kata jamak . Karena jalan-jalan yg lain terpisah-pisah dan bercabang-cabang.”
2. Allah k
berfirman:

وَدَاوُدَ وَسُلَيْماَنَ إِذْ يَحْكُماَنِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيْهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُناَّ لِِحُكْمِهِمْ شاَهِدِيْنَ. فَفَهَّمْناَهاَ سُلَيْماَنَ وَكُلاًّ آتَيْناَ حِكْماً وَعِلْماً وَسَخَّرْناَ دَاوُدَ الْجِباَلَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وُكُناَّ فاَعِلِيْنَ

“Dan Dawud dan Sulaiman di waktu kedua memberikan keputusan mengenai tanaman. Karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan yg diberikan oleh mereka itu. mk Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum . Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu. Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung serta burung-burung. Semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yg melakukannya.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t
menjelaskan -tentang dua ayat ini- sebagai berikut: “Kedua nabi yg mulia ini telah sama-sama memberikan keputusan dlm sebuah kasus yg membutuhkan vonis hukum. mk Allah k
mengistimewakan salah seorang dari kedua dgn memahamkan duduk permasalahan . Bersamaan dgn itu Allah memuji masing-masing dari kedua dgn mendatangkan pengetahuan hukum dan ilmu kepadanya. Demikian pula para ulama yg mujtahid g
. Siapa yg benar dari mereka mendapatkan dua pahala sedangkan yg salah mendapatkan satu pahala. Masing-masing mereka taat kepada Allah sesuai dgn kemampuannya. Allah tdk akan memberatkan dgn sesuatu yg dia tdk mampu mengilmuinya”
3. Rasulullah n
bersabda:

إِذاَ حَكَمَ الْحاَكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصاَبَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذاَ حَكَمَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ

“Apabila seorang hakim menghukumi lalu berijtihad mk jika benar dia mendapatkan dua pahala dan jika salah dia mendapatkan satu pahala.”
Al-Imam Al-Muzani t
menandaskan: “Perlu dipertanyakan kepada orang yg membolehkan perbedaan pendapat dan menyangka bahwa dua orang alim jika berijtihad pada sebuah kejadian –yang satu berpendapat sementara yg lain berpendapat – masing-masing dari kedua meraih kebenaran: Apakah engkau mengatakan ini dgn sebuah sumber atau dgn qiyas? Bila dia menjawab: Dengan sebuah sumber . Dipertegas kepadanya: Bagaimana bisa dari sebuah sumber sedangkan Al Qur`an menolak perbedaan pendapat. Bila dia menjawab: Dengan qiyas. Dipertegas kepadanya: Sumber-sumber menolak perbedaan pendapat dan bagaimana engkau bisa mengqiyas atas sumber-sumber tersebut utk membolehkan perbedaan pendapat. Ini merupakan perkara yg tdk bisa diterima oleh orang yg berakal terlebih lagi oleh seorang yg berilmu.”
4. Rasulullah n
bersabda:

إِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفَرَّقَتْ أُمَّتِي عَلىَ ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي الناَّرِ إِلاَّ وَاحِدَةً. قَالُوا: وَمَنْ هِيَ، ياَ رَسُوْلَ اللهِ؟ قاَلَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ الْْيَوْمَ وَأَصْحاَبِي

“Sesungguh Bani Israil telah berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan akan berpecah umatku menjadi tujuh puluh tiga golongan. Mereka seluruh berada dlm api neraka kecuali golongan yg satu. Para shahabat bertanya: “Siapa golongan itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “ ajaranku dan shahabatku pada hari ini.”
Dalam sanad hadits ini terdapat Abdurrahman bin Ziyad Al-Ifriqi. Dia seorang yg dha’if. Tetapi hadits ini dikuatkan oleh banyak hadits lain yg semakna. Hadits-hadits tersebut diriwayatkan dari beberapa orang shahabat antara lain:
1. Abu Hurairah
2. Mu’awiyah bin Abi Sufyan
3. Anas bin Malik
4. ‘Auf bin Malik
5. Ibnu Mas‘ud
6. Abu Umamah
7. ‘Ali bin Abi Thalib
8. Sa’ad bin Abi Waqqash
Semoga Allah k
meridhai mereka semua.
Al-Imam Syathibi t
memaparkan: “Sabda beliau n
“Kecuali golongan yg satu” secara nash memberikan penjelasan bahwa kebenaran hanya satu dan tdk beraneka ragam. Sebab jika seandai kebenaran menjadi milik berbagai pihak niscaya beliau tdk akan mengatakan “Kecuali golongan yg satu””.
5. Al-Imam Al-Muzani t
berkata:
Para shahabat Rasulullah n
telah berbeda pendapat. Sebagian mereka menyalahkan yg lainnya. melihat kepada pendapat-pendapat yg lain lalu mengomentarinya. Jika mereka berpandangan bahwa seluruh pendapat mereka adl benar niscaya mereka tdk akan melakukan yg demikian.
‘Umar bin Al-Khaththab z
pernah marah krn perselisihan Ubay bin Ka’b z
dgn Abdullah bin Mas’ud z
mengenai hukum shalat mengenakan sehelai pakaian. Saat itu Ubay berkata: “Sesungguh shalat dgn mengenakan sehelai pakaian merupakan perkara yg baik lagi bagus.” Ibnu Mas’ud berkata: “Sungguh yg demikian itu bila jumlah pakaian sedikit.” mk ‘Umar keluar dlm keadaan marah dan berkata: “Dua orang shahabat Rasulullah n
yg dipandang dan diambil pendapat telah berselisih. Ubay telah benar dan Ibnu Mas’ud tdk lalai. Akan tetapi tidaklah aku mendengar seorang pun berselisih mengenai setelah tempatku ini melainkan aku akan memperlakukan demikian dan demikian.”

Tidak Setiap Mujtahid Benar
Dalil-dalil di atas dgn tegas mematahkan kesesatan sebagian muslimin yg berpandangan bahwa tiap mujtahid benar. Sebab pernyataan ini adl madzhab Mu’tazilah negeri Bashrah. Merekalah sumber dari kebid’ahan ini. Mereka berpendapat demikian krn tdk paham tentang makna-makna dan metode-metode fiqih yg mengantarkan kepada kebenaran serta memisahkan dari kerancuan-kerancuan yg batil.
Tidak ada seorang pun dari para ulama sunnah dan imam-imam Islam yg menyuarakan bahwa tiap mujtahid benar. Adapun penisbahan kepada Al-Imam Asy-Syafi’i dan Al-Imam Malik merupakan isapan jempol dan tdk bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Al-Imam Malik t
berkata: “Tidaklah kebenaran melainkan hanya satu. dua pendapat yg saling bertentangan kedua benar? Tidaklah al-haq dan kebenaran melainkan hanya satu.”
Hal yg hampir senada diucapkan pula oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah t
Ibnu Abdil Barr t
dan para ulama yg lainnya.

Perselisihan Bukan Argumen utk Mentolerir Suatu Pendapat
Berargumen dgn perselisihan dan perbedaan pendapat utk melegitimasi suatu pemikiran atau madzhab sebagai sebuah kebenaran merupakan perkara yg tdk benar. Sikap ini tdk memiliki akurasi hujjah. Sebab Al Qur`an dan As Sunnah tdk mengajarkannya.
Al-Hafidz Abu ‘Umar bin Abdil Barr t
berkata: “Perselisihan bukan hujjah menurut seluruh ahli fiqih umat ini kecuali bagi orang yg tdk punya mata hati dan pengetahuan. mk pendapat bukan hujjah.”
Kewajiban seorang muslim adl mencari letak kebenaran dlm sebuah perselisihan dan pertikaian. Tidak semua pendapat mengusung kebenaran. Kebenaran hanya berada pada salah satu pihak yg berselisih dan bertikai. Ini adl pendapat Al-imam Malik Ahmad dan Asy-Syafi’i rahimahumullah.
Pihak yg benar adl yg pendapat berlandaskan Al Qur`an dan As Sunnah beserta pemahaman Salaf. Sebuah kesalahan fatal bila seorang muslim menganggap suatu perkara dibolehkan dgn alasan perselisihan di kalangan para ulama apalagi yg selainnya. Ini merupakan kekeliruan terhadap syariat Islam. Namun sangat disayangkan betapa banyak orang yg terjatuh di dalamnya. Mereka bukan dari golongan orang awam saja akan tetapi juga melibatkan orang2 yg mengaku diri berilmu. Sebagian mereka dianggap ulama atau paling tdk bergelar kyai maupun ustadz. Bahkan tdk jarang ahlul bid’ah berupaya melanggengkan berbagai kebid’ahan dgn alasan yg demikian. Wallahul musta’an.
Marilah kita menyimak penuturan ulama berikut ini:
 Al-Imam Asy-Syathibi t
berkata: “Perkara ini telah melampaui kadar yg cukup. Sehingga terjadi pembolehan sebuah perbuatan krn berpegang pada kondisi yg diperselisihkan di kalangan para ulama. Pembolehan ini bukan bermakna utk memelihara perselisihan sebab hal ini memiliki sisi pandang yg lain akan tetapi tujuan adl yg selain itu . Terkadang dlm suatu permasalahan muncul fatwa yg melarang. Lalu dipertanyakan: “Kenapa engkau melarang? Padahal permasalahan diperselisihkan.” mk perselisihan dijadikan argumen utk membolehkan semata-mata krn permasalahan diperselisihkan. Bukan krn dalil yg menyokong kebenaran madzhab yg membolehkan. Tidak pula krn taqlid kepada orang yg lbh pantas diikuti daripada orang yg mengatakan larangan. Itulah wujud kesalahan terhadap syariat yaitu menjadikan yg bukan pegangan sebagai pegangan dan yg bukan hujjah sebagai hujjah.”
 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t
berkata: “Siapapun tdk boleh berhujjah dgn pendapat seseorang dlm permasalahan-permasalahan yg diperselisihkan. Hujjah itu hanya berupa nash ijma’ dan dalil yg disimpulkan dari itu pendahuluan dikokohkan dgn dalil-dalil syar’i tdk dgn pendapat-pendapat sebagian ulama. Karena pendapat-pendapat ulama perlu diberi hujjah dgn dalil-dalil syar’i bukan utk dijadikan sebagai hujjah atas dalil-dalil syar’i.”

Setiap Pendapat Menuntut Dalil
Menuntut dalil dari tiap pendapat merupakan kewajaran di kalangan pecinta kebenaran. Tentu tanpa memandang siapa yg menjadi sasarannya. Sebab nilai kebenaran terletak pada dalil bukan dlm kebesaran nama seseorang. Namun tdk berarti tanpa etika dan adab yg layak dlm melakukannya. Inilah barangkali yg tdk dipahami oleh para pembebek yg terperosok dlm kubangan pengkultusan tokoh. Acapkali mereka memegang sebuah pendapat krn yg mengucapkan adl seorang yg punya nama besar tanpa menoleh dalilnya. Terkadang profil yg dimaksud bukan ulama yg faham agama beserta dalil-dalil dgn benar.
Tapi keharusan berpijak kepada dalil tdk bisa digugurkan walaupun pemilik pendapat adl seorang ulama dgn kriteria yg hampir mencapai titik sempurna. Orang yg mempelajari sejarah hidup generasi terbaik umat ini akan melihat bahwa mereka tdk sungkan-sungkan utk berta tentang dalil sebuah pendapat kepada yg bersangkutan. Berikut beberapa riwayat dlm masalah ini:
1. Dari Abu Ghalib ia berkata: Kami berta :

أَبِرَأْيِكَ قُلْتَ: هَؤُلاَءِ كِلاَبُ الناَّرِ، أَوْ شَيْءٌ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟

“Apakah dgn pendapatmu engkau mengatakan: Mereka adl anjing-anjing neraka atau sesuatu yg engkau dengar dari Rasulullah n
?

إِنِّي لَجَرِيْءٌ بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ ثِنْتَيْنِ وَلاَ ثَلاَثٍ

“ sungguh aku sangat berani. Akan tetapi aku mendengar dari Rasulullah n
tak hanya sekali dua dan tiga kali.” Lalu beliau menyebutkan hitungan bilangan berulang kali.
2. Dari Abu Shalih ia berkata: Aku mendengar Abu Sa’id Al-Khudri z
mengatakan:

الدِّناَرُ بِالدِّناَرِ، وَالدِّرْهَمُ بِالدِّرْهَمِ، مِثْلاً بِمِثْلٍ، فَمَنْ زَادَ – أَوِ ازْدَادَ – فَقَدْ أَرْيَى

“Dinar dgn dinar dan dirham dgn dirham dgn timbangan yg sama . Barangsiapa yg menambahi atau minta tambahan berarti dia telah berbuat riba.”
Aku berkata kepada : “Sesungguh Ibnu ‘Abbas mengatakan yg selain ini.” Abu Sa’id Al-Khudri menjawab: “Aku telah bertemu Ibnu ‘Abbas. Aku bertanya: Apakah yg engkau ucapkan ini adl sesuatu yg pernah engkau dengar dari Rasulullah n
atau engkau mendapatkan dlm Kitabullah –k
–? Beliau menjawab: Aku tdk mengatakan semua itu. Kalian lbh tahu tentang Rasulullah n
daripada aku. Akan tetapi Usamah telah memberitakan kepadaku bahwa Rasulullah n
bersabda:

لاَ رِباً إِلاَّ فِي النَّسِيْئَةِ

“Tidak ada riba kecuali an-nasi`ah.”
3. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan di dlm Manaqib Asy-Syafi’i : Al-Imam Ahmad pernah berta kepada Al-Imam As-Syafi’i rahimahumallah: “Apa pendapatmu tentang masalah yg demikian dan demikian?” Lalu Al-Imam Asy-Syafi’i menjawab masalahnya. Al-Imam Ahmad berkata: “Dari mana engkau mengatakan itu? Apakah terdapat pada sebuah hadits atau ayat Al Qur`an?” Al-Imam Asy-Syafi’i menjawab: “Ya.” Lantas beliau mengutarakan sebuah hadits Nabi n
mengenai masalah tersebut.”
Demikianlah tuntunan dari pendahulu kita yg baik. Namun sangat disayangkan kini banyak kalangan mentolerir suatu pendapat krn semata-mata yg mengucapkan adl seorang ulama atau kyai. Mereka tdk bersikap ilmiah dgn mau melihat dalilnya. Terlebih lagi mau berpikir tentang akurasi dalil dan pendalilannya. Inilah realita pahit dan memilukan dlm kehidupan beragama kebanyakan kaum muslimin belakangan ini. Bahkan penyakit ini berkembang pula di tengah para santri kebanyakan pondok pesantren di dlm dan luar negeri. tdk kalah seru tatkala hal serupa ikut merebak di level para da’i yg sedang bergelut di kancah dakwah kecuali segelintir orang yg dirahmati oleh Allah k
. Wallahul musta’an.
Semoga pembahasan ini mengingatkan kita utk kembali intropeksi diri dgn satu pertanyaan: Dari golongan manakah kita dlm memegang pendapat? Mudah-mudahan Allah k
menjadikan kita selalu berada di belakang dalil dlm beragama dan tdk dininabobokan oleh nama besar sosok-sosok tertentu.

Penutup
Seluruh pembahasan di atas berlaku secara umum pada segala permasalahan agama baik ushul maupun furu’ tanpa perbedaan. Karena masing-masing bagian memiliki kekokohan hubungan yg sama erat dgn norma-norma syari’at.
Adapun perselisihan yg dimaksud dlm pembahasan di atas yaitu perselisihan yg mengandung kontradiksi antara dua pendapat atau lbh dan tdk bisa kompromikan. Yang bisa dikompromikan dgn metode-metode yg dikenal di kalangan para ulama tdk termasuk dlm cakupan krn tdk masuk dlm kategori perselisihan dgn makna yg sesungguhnya. Perselisihan ini diistilahkan di kalangan para ulama dgn nama ikhtilaf tadhadh. Di sana terdapat perselisihan yg berangkat dari keragaman dalil. Ini pada hakekat tdk dapat dikatakan sebagai perselisihan. Lebih tepat utk dikatakan sebagai keragaman aturan syariat Islam dlm masalah tersebut. Perselisihan ini diistilahkan di kalangan para ulama dgn nama ikhtilaf tanawwu’.
Dari Ibnu Mas’ud z
beliau berkata:

سَمِعْتُ رَجَلاً قَرَأَ آيَةً سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ خِلاَفَهاَ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَانْطَلَقْتُ بِهِ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْتُ لَهُ ذَلِكَ، فَعَرَفْتُ فِيْ وَجْهِهِ الْكَرَاهَةَ، وَقاَلَ: كِلاَكُماَ مُحْسِنٌ وَلاَ تَخْتَلِفُوْا فَإِنَّ مَنْ كاَنَ قَبْلَكُم اخْتَلَفُوْا فَهَلَكُوْا

“Aku mendengar seseorang membaca satu ayat padahal aku mendengar Rasulullah n
membaca berbeda dgn bacaannya. mk aku memegang tangan dan membawa menemui Rasulullah  lalu aku laporkan perkara itu kepada beliau. Aku melihat rasa tdk suka pada wajah beliau dan beliau bersabda: Kalian berdua telah benar dan janganlah berselisih krn orang2 sebelum kalian berselisih sehingga mereka binasa.”
Demikianlah yg dapat kami tuliskan di sini. semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Yang benar datang dari Allah k
sedangkan yg salah datang dari kami dan setan. Karena kami mohon ampun kepada Allah k
.Wallahu a’lam.

Sumber bacaan:
Al Qur`an
Tafsir Ibnu Katsir t

Mukhtashar Ash-Shawa’iqil Mursalah karya Muhammad Al-Mushili t

Al-I’tisham karya Asy-Syathibi t
tahqiq Salim Al-Hilali
Shifat Shalat Nabi karya Asy-Syaikh Al-Albani t

Zajrul Mutahawin karya Hamd bin Ibrahim Al-Utsman t

 Tahdzib Al-Muwafaqat karya Muhammad bin Husain Al-Jizani

Sumber: http://www.asysyariah.com

Categories: At Tarikh Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: